Category Archives: Artikel

Jujur itu makmur

Mengapa Denmark menjadi salah salah satu Negara paling makmur di Dunia? Padahal, negaranya tidak memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah dan kondisi musim di Negara itu sangat ekstrim karena dekat dengan kutub utara. Di negeri ini, matahari dan siang hari hanya sebentar, terutama pada musim dingin.

Suatu hari tanpa sengaja, ALLAH SWT mengarahkan jari-jemari saya melalui google untuk membuka sejarah Denmark. Info Wikipedia yang kebetulan saya baca, ternyata Denmark adalah Negara paling nyaman untuk tempat tinggal manusia di dunia, Negara dengan pendapatan penduduk paling tinggi, juga menjadi Negara paling makmur, paling bersih hingga mendapat gelar ‘’Negeri Dongeng.’’

Buatlah Siswa Merindukan Anda

Ketika hendak berangkat ke sekolah,apakah yang terbesit di pikiran anda? Apakah semata-mata hanya memenuhi tugas sebagai guru ataukah merasa rindu ingin bertemu dengan anak didik anda? Jika orang tua sehari saja tidak bertemu dengan anaknya, tentunya rasa rindu itu akan menyelimuti dihatinya. Demikian juga dengan guru, sudah selayaknya akan merindukan didiknya karena mereka sudah dianggap sebagai anak sendiri. Ya, rindu akan segera mengajari mereka tentang segala hal sebagai bekal hidup anak didik nanti.

            Rasa rindu yang dimiliki seorang guru harus lah tulus dan suci. Rindu seorang guru terhadap murid tidak lah dibuat-buat, rindu yang keluar sebagai rasa cinta dan kasih terhadap siswa kita sebagai mana kita mencintai anak dan keluarga kita sendiri. Bukankah dalam islam, keimanan seorang Muslim lainnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Begitupun dengan seorang guru harus memiliki keterampilan dalam memainkan peranan rasa dalam mengajar. Rindu sebagai rasa yang sangat lembut dapat menembus relung hati siswa yang haus cinta dan kasih sayang dari seorang guru.

Anggaplah Siswa Layaknya Anak Sendiri

Tugas seorang guru adalah sebagai pendidik, pengajar, dan pelatih. Meskipun demikian, guru juga dituntut untuk menjadi orang tua yang baik sehingga tidak mengaggap siswa dan siswi yang diajarnya sebagai orang lain dan hanya sebatas melakukan pekerjaan sesuai profesi saja. Dalam mengajar, guru seharusnya menjadi figur orang tua yang menyayangi dan melakukan yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya.

Ketika berada di rumah, anak merasakan kenyamanan dalam asuhan orang tuanya. Meskipun demikian, anak tetap membutuhkan figur yang bisa menjadi orang tua ketika berada di sekolah. Figur orang tua itu ada pada guru-gurunya. Di samping itu, ada juga anak yang sama sekali tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua di rumah. Anak tersebut tentunya membutuhkan figur pengganti orang tua ketika berada di sekolah. Maka, guru yang bisa berperan sebagai orang tua di sekolah akan dicintai oleh mereka.

Beri kesempatan anak untuk bertanya

Pada dasarnya, anak memiliki rasa ingin tahu dan suka berimajinasi, anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak-anak bukan Indonesia selama mereka normal terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya proses belajar anak. Hal ini merupakan tahap awal yang harus diketahui seorang guru sebelum memberikan materi pelajaran. Rasa keingintahuan dan imajinasi yang tinggi itulah yang kemudian membuat anak kecil kerap bertanya sesuatu hal yang baru. Pun, ketika anak-anak memasuki usia sekolah dan mengetahui di dalam ruang kelas.

Anak kecil yang cerdas dan kreatif adalah mereka yang kerap bertanya di ruang kelas. Sebagai seorang guru, anda harus benar benar memahami sifat dan karakteristik anak didik anda. Tetapi kenyataannya, tidak sedikit guru yang kemudian jengkel ketika banyak ditanya oleh muridnya. Akibatnya, anak didik merasa kecewa karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.

Lelah Mencari Nafkah

Suatu ketika Nabi saw dan para sahabat melihat ada sorang laki-laki yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja. Seorang sahabat berkomentar, “Wahai Rasulullah, andai saja keuletannya itu dipergunakannya di jalan Allah.”

Rasulullah saw menjawab,”apabila ia keluar mencari rizki karena anaknya yang masih kecil, ia di jalan Allah. Apabila ia keluar mencari rezeki karena orang tuanya yang sudah renta, ia di jalan Allah. Apabila ia keluar mencari rezeki karena dirinya sendiri supaya terjaga harga dirinya, ia di jalan Allah. Apabila ia keluar mencari rezeki karena ria dan kesombongan, ia di jalan setan (Al Mundziri at-Targhiib wa at-Tarhiib).

Powered By Abdul Muiz Marzuki